20 Oct 2026
Bandara Raja Haji Fisabilillah Tampilkan Atap Adaptif untuk Iklim Pesisir
Bandara Raja Haji Fisabilillah Tampilkan Atap Adaptif untuk Iklim Pesisir
Share:
Arsitektur bandara perlu menjawab lebih dari kebutuhan keberangkatan dan kedatangan penumpang. Sebagai gerbang suatu wilayah, terminal juga perlu mengelola pertumbuhan kapasitas, memperjelas orientasi, merespons iklim, dan menerjemahkan identitas lokal ke dalam bentuk yang relevan.
Bandar Udara Internasional Raja Haji Fisabilillah karya PT Wiratman di Tanjungpinang memperlihatkan pendekatan tersebut melalui massa terminal yang siap diperluas dan komposisi atap bertema maritim.
Bandar Udara Internasional Raja Haji Fisabilillah menjadi finalis kategori Infrastruktur dalam Steel Architectural Award 2024 semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu referensi desain bandara dan fasilitas publik modern.
Pendekatan serupa juga dapat ditemukan pada proyek finalis Steel Architectural Award 2024 lainnya, seperti GOR Djarum Magelang memakai atap bentang besar untuk menjaga ruang gerak atlet, Jakarta International Stadium mengembangkan sistem buka-tutup untuk pertandingan dan acara besar, sedangkan Indonesia Arena menggunakan ruang bebas kolom bagi program yang dapat berubah.
Konsep Desain Bandara yang Fleksibel dan Adaptif

Bandar Udara Internasional Raja Haji Fisabilillah dirancang untuk mengakomodasi pertumbuhan jumlah penumpang sekaligus menjaga operasional terminal tetap efisien. Konsepnya mengutamakan fleksibilitas sehingga bangunan dapat berkembang mengikuti kebutuhan di masa depan.
Tak hanya menjadi salah satu pintu gerbang utama menuju Tanjungpinang, Bandara Raja Haji Fisabilillah hingga kini tetap memiliki peran penting dalam mendukung berbagai aktivitas di Kepulauan Riau. Pada 13 Januari 2026, misalnya, bandara ini menjadi titik kedatangan Kepala BKN RI Zudan Arif Fakrulloh dalam rangka kunjungan kerja ke wilayah tersebut. Di balik perannya yang terus berjalan hingga kini, bangunan bandara karya Ar. Ir. Tateng K. Djajasudarma ini juga memiliki karakter arsitektur yang membuatnya meraih penghargaan Steel Architectural Award 2024. (Sumber: Kepriprov.go.id)
Desain Terminal yang Mudah Dikembangkan
Terminal menggunakan komposisi massa simetris sehingga dapat diperluas ke sisi kiri maupun kanan tanpa mengubah struktur utama. Pendekatan ini membuat pengembangan kapasitas lebih efisien, sementara bentuk bangunan yang ramping membantu cahaya alami menjangkau area check-in, ruang tunggu, dan sirkulasi.
Pendekatan serupa juga dapat ditemukan pada pembahasan desain arsitektur bandara modern, yang menunjukkan bagaimana perancangan terminal perlu mempertimbangkan fleksibilitas, efisiensi operasional, serta kenyamanan pengguna sejak tahap awal perencanaan.
Sirkulasi yang Efisien Sesuai Kebutuhan Bandara
Alur penumpang disusun mengikuti skala operasional bandara. Keberangkatan menggunakan sistem back-to-back boarding, sedangkan area internasional ditempatkan di lantai mezanin untuk memisahkan alur domestik dan internasional tanpa perlu membangun terminal terpisah. Pendekatan ini menunjukkan bagaimana desain bandara dapat tetap efisien sekaligus siap beradaptasi dengan peningkatan aktivitas penerbangan di masa mendatang.
Pendekatan serupa juga terlihat pada Airport Domine Eduard Osok Sorong, yang sama-sama mengutamakan efisiensi alur penumpang sekaligus menghadirkan karakter arsitektur yang merepresentasikan identitas daerah. Kedua proyek menunjukkan bahwa desain bandara tidak hanya berfokus pada kapasitas, tetapi juga perlu menyesuaikan pola pergerakan pengguna, kondisi tapak, serta konteks wilayah tempat bandara berada.
Karakteristik Desain Bandar Udara Raja Haji Fisabilillah

Bandar Udara Internasional Raja Haji Fisabilillah dirancang dengan menggabungkan identitas budaya Melayu, respons terhadap iklim pesisir, serta efisiensi konstruksi. Pendekatan ini menghasilkan terminal yang tidak hanya fungsional, tetapi juga merepresentasikan karakter Kepulauan Riau.
Atap yang Mengangkat Identitas Maritim
Konsep atap terinspirasi dari pantun Lancang Kuning yang merepresentasikan budaya maritim Melayu. Ide tersebut diwujudkan melalui tiga lapisan atap, yaitu kanopi bergelombang yang menggambarkan ombak, struktur menyerupai layar kapal, dan atap utama berbentuk lengkung seperti awan. Susunan ini membentuk pengalaman kedatangan yang bertahap sekaligus memperkuat identitas terminal.
Desain yang Adaptif terhadap Iklim Pesisir
Terminal dirancang untuk merespons kondisi pesisir Tanjungpinang melalui overstek lebar, kisi-kisi, bukaan kaca, dan massa bangunan yang ramping. Strategi ini membantu memaksimalkan pencahayaan alami, ventilasi, serta mengurangi paparan panas matahari. Area drop-off juga dilengkapi ruang hijau sebagai transisi yang lebih nyaman sebelum penumpang memasuki terminal.
Interior Terbuka yang Memudahkan Orientasi

Ruang dalam menggunakan partisi transparan dan tata ruang yang terbuka sehingga penumpang lebih mudah menemukan area check-in, ruang tunggu, maupun pintu keberangkatan. Identitas lokal turut dihadirkan melalui elemen Cogan pada area masuk sebagai simbol penyambutan khas budaya Melayu.
Solusi Material untuk Bandara di Lingkungan Pesisir
Pemilihan material pada bandara tidak hanya mempertimbangkan kekuatan struktur, tetapi juga harus mampu merespons paparan lingkungan pesisir, bentuk atap, efisiensi konstruksi, hingga kemudahan perawatan dalam jangka panjang.
Pada Bandar Udara Raja Haji Fisabilillah, penggunaan COLORBOND® Steel warna Gull Grey dengan profil LYSAGHT® TRIMDEK® OPTIMA, didukung Solar Reflectance Index (SRI) 69 dan Clean Technology, membantu membentuk selubung bangunan yang sesuai dengan karakter iklim pesisir sekaligus mendukung performa operasional terminal.
Selama lebih dari 60 tahun, COLORBOND® Steel telah dikembangkan untuk berbagai kebutuhan atap dan fasad bangunan. Pilihan produknya meliputi Ultra AZ200, XAL Aluminium Alloy 3105 H16, XPD AZ150, XRW AZ150, hingga Matte berbasis AZ150 dengan tingkat kilap sekitar 7 G.U..
Setiap varian dirancang untuk menjawab kebutuhan proyek yang berbeda, sehingga pemilihannya perlu disesuaikan dengan kondisi lingkungan, geometri bangunan, sistem pemasangan, serta target performa yang ingin dicapai.
Melalui berbagai proyek infrastruktur, terlihat bahwa material atap dapat berperan lebih dari sekadar pelindung bangunan. Dengan pemilihan profil, warna, dan sistem yang tepat, material juga mampu memperkuat karakter arsitektur, meningkatkan kenyamanan bangunan, serta mendukung efisiensi operasional dalam jangka panjang.
Untuk memastikan solusi yang paling sesuai dengan kebutuhan proyek, pemilihan material, profil, warna, hingga detail pemasangan dapat dikaji lebih lanjut melalui diskusi teknis sejak tahap perancangan bersama tim COLORBOND® Steel.
FAQ tentang Bandara Raja Haji Fisabilillah
Bagian berikut merangkum strategi utama dalam pengembangan terminal.
Mengapa massa terminal dibuat simetris?
Komposisi simetris memungkinkan terminal diperluas ke dua arah ketika kapasitas penumpang meningkat, dengan perubahan minimum pada struktur serta alur utama.
Apa makna tiga lapisan atap bandara?
Kanopi bergelombang menggambarkan ombak, struktur bermembran putih menyerupai layar, dan atap utama yang melengkung merepresentasikan awan.
Bagaimana alur domestik dan internasional dipisahkan?
Keberangkatan internasional ditempatkan di lantai mezanin, sedangkan aktivitas domestik berada pada level utama. Pemisahan vertikal menjaga sirkulasi tetap ringkas.
Bagaimana terminal merespons iklim pesisir?
Responsnya mencakup overstek lebar, kisi-kisi, ventilasi silang, massa ramping, vegetasi pada area kedatangan, dan pemilihan sistem atap yang sesuai dengan kondisi laut.
Mengapa panel atap diproduksi di Batam?
Produksi di Batam mempermudah kontrol dimensi dan mengurangi kebutuhan fasilitas fabrikasi besar di Tanjungpinang. Panel kemudian dikirim dalam kondisi siap dipasang.
Sumber Artikel
- Steel Architectural Award
- Referensi para finalis Steel Architectural Award 2024 dari website COLORBOND®
- Referensi Artikel related dari website COLORBOND® steel


