24 Sep 2026
Di Balik RGE Community Center Ada Strategi Ruang yang Menarik
Di Balik RGE Community Center Ada Strategi Ruang yang Menarik
Share:
Arsitektur hijau pada bangunan komunal tidak hanya berkaitan dengan penambahan vegetasi, tetapi juga bagaimana massa, ruang terbuka, fasad, dan selubung merespons lingkungan.
Pendekatan ini terlihat pada RGE Community Center di Pangkalan Kerinci, Pelalawan, Riau, sebuah karya Steel Architectural Awards Indonesia 2026 yang mengolah hubungan bangunan dengan lanskap sebagai bagian utama konsepnya.
Proyek seluas kurang lebih 12.000 m² yang selesai pada 2025 ini dirancang oleh Ar. Andhi Priatmoko. Konsep Embracing Gesture diterjemahkan melalui massa berbentuk sabit yang merangkul courtyard, amphitheater, serta lanskap bertingkat.
Pendekatan tersebut memiliki kedekatan dengan pembahasan arsitektur modern, ketika bentuk tidak berdiri sendiri, tetapi berkembang bersama fungsi, struktur, dan kondisi lingkungan.
Embracing Gesture sebagai Dasar Pembentukan Massa
Gagasan merangkul menjadi dasar pengaturan bangunan sekaligus ruang publik di dalam kawasan.
Massa Sabit Mengelilingi Courtyard
Massa utama membentuk kurva yang mengitari courtyard. Pada bagian tengah terdapat amphitheater berbentuk lingkaran yang menjadi titik aktivitas komunitas.
Alih-alih berfungsi sebagai ruang sisa, courtyard menjadi pusat orientasi. Teras, jalur pedestrian, tanaman, hardscape, dan softscape dirangkai sebagai satu pengalaman ruang. Strategi ini membuat arsitektur hijau bekerja melalui hubungan langsung antara bangunan dan ruang luar.
Bangunan Menjadi Bagian dari Living Civic Landscape

Lanskap tidak ditempatkan sebagai elemen pelengkap, tetapi menjadi bagian dari struktur ruang RGE Community Center.
RGE Community Center mengusung konsep kawasan sebagai living civic landscape. Beberapa bagian massa diangkat sehingga lantai dasar memiliki porositas, sementara overhang membentuk jalur teduh di sepanjang perimeter.
Site plan juga memperlihatkan hubungan antara event plaza, green roof, viewing deck, polyclinic, amphitheater, dan outdoor field. Susunan tersebut membuat aktivitas komunitas dapat bergerak dari interior menuju ruang luar secara bertahap.
Cara lain dalam merancang fasilitas publik yang responsif terhadap pengguna dapat dipelajari melalui inspirasi desain sekolah modern, khususnya dalam melihat hubungan ruang belajar, sirkulasi, dan area bersama.
Secondary Skin Merespons Iklim Tropis

Lapisan fasad menjadi pertemuan antara kebutuhan pembayangan untuk mengurangi paparan sinar matahari langsung dan identitas lokal.
Batik Bono Menjadi Bahasa Fasad
Secondary skin mengikuti kurva bangunan dengan pola yang mengabstraksi Bono Wave dari Sungai Kampar menjadi ekspresi kontemporer Batik Bono. Detail proyek menunjukkan penggunaan powder-coated aluminium extrusion sebagai elemen vertikal pembentuk pola tersebut.
Fasad ini membantu memberikan pembayangan sambil mempertahankan ventilasi dan transparansi visual. Jarak antara lapisan luar dan ruang di belakangnya juga menciptakan kedalaman pada perimeter.
Bagi arsitek, pendekatan ini menunjukkan bahwa arsitektur hijau dapat sekaligus membawa identitas lokal. Motif tradisional tidak perlu direplikasi secara literal, tetapi dapat diterjemahkan melalui ritme, modul, dan sistem konstruksi.
Atap Lengkung Mengikuti Geometri Bangunan

Kurva massa membawa konsekuensi langsung pada pemilihan sistem atap dan koordinasi konstruksinya.
LYSAGHT® FLEX-LOK® pada Polyclinic Wing
RGE Community Center menggunakan LYSAGHT® FLEX-LOK® dengan COLORBOND® Steel pada atap melengkung Polyclinic Wing. Sistem tersebut dikembangkan melalui pendekatan segmented-tapered profile agar panel dapat mengikuti perubahan radius dan arah bidang atap.
Bagi arsitek, bagian pentingnya berada pada koordinasi radius, pembagian panel, struktur pendukung, dan detail sambungan. Kesinambungan garis atap perlu dijaga agar bentuk sabit tetap terbaca konsisten dari skala kawasan hingga detail selubung.
Dokumen proyek juga mengaitkan sistem tersebut dengan kebutuhan termal dan akustik fungsi pelayanan kesehatan. Namun, ketebalan, warna, coating mass, dan pemasok belum tercantum sehingga detail tersebut tidak diasumsikan.
COLORBOND® Steel tahun ini telah memasuki usia 60 tahun sebagai merek global material metal berlapis dari BlueScope yang terus dikembangkan menyesuaikan kebutuhan masa kini dan masa depan.
Dalam tahap pengembangan desain, referensi produk untuk bangunan infrastruktur dapat dibaca bersama pilihan warna standar, terutama ketika sistem atap perlu mengikuti geometri bangunan yang kompleks.
Pelajaran Arsitektur dari RGE Community Center
RGE Community Center menunjukkan bahwa arsitektur hijau dapat tumbuh dari satu gagasan yang konsisten, bukan kumpulan strategi yang berdiri sendiri.
Massa sabit membentuk courtyard, amphitheater menjadi pusat kegiatan, lanskap bertingkat memperluas ruang komunal, secondary skin merespons iklim sekaligus membawa identitas Batik Bono, sedangkan atap lengkung mengikuti geometri bangunan.
Beragam referensi proyek infrastruktur juga menunjukkan bagaimana bangunan publik dapat merespons konteks melalui pendekatan struktur, lanskap, dan selubung yang berbeda.
Pendekatan ruang publik yang menyatu dengan kondisi lingkungan juga dapat dilihat pada Desa Binaan Tampelas. Meski konteks keduanya berbeda, masing-masing menunjukkan bagaimana arsitektur hijau dapat berangkat dari pembacaan tapak, kegiatan pengguna, serta hubungan ruang komunal dengan alam.
Bagi arsitek, nilai utama arsitektur hijau RGE Community Center berada pada hubungan antara bentuk, iklim, aktivitas komunitas, dan sistem material. Untuk pengembangan profil maupun sistem atap pada proyek infrastruktur, kebutuhan teknis dapat dibahas melalui konsultasi proyek bersama tim COLORBOND® Steel.
FAQ
Siapa arsitek RGE Community Center?
Project board mencantumkan Ar. Andhi Priatmoko sebagai arsitek proyek.
Di mana RGE Community Center berada?
Proyek berlokasi di Pangkalan Kerinci, Pelalawan, Riau.
Berapa luas RGE Community Center?
Project board mencatat luas proyek sekitar 12.000 m².
Apa konsep utama RGE Community Center?
Konsepnya disebut Embracing Gesture, diterjemahkan melalui massa berbentuk sabit yang merangkul courtyard dan amphitheater.
Bagaimana arsitektur hijau diterapkan pada proyek ini?
Pendekatannya terlihat melalui courtyard, porositas lantai dasar, overhang, hubungan interior-lanskap, green roof, secondary skin, dan pengolahan selubung yang merespons iklim.
Apa inspirasi desain fasad RGE Community Center?
Secondary skin mengambil abstraksi Bono Wave dari Sungai Kampar dan menerjemahkannya menjadi pola kontemporer Batik Bono.
Produk apa yang digunakan pada atap?
Project board mencatat LYSAGHT® FLEX-LOK® dengan COLORBOND® Steel pada atap melengkung Polyclinic Wing. Spesifikasi ketebalan, warna, coating mass, dan pemasok belum dicantumkan.
Sumber referensi :
- Steel Architectural Award 2026
- Referensi para finalis Steel Architectural Award 2026 dari website COLORBOND®
3. Referensi Artikel related dari website COLORBOND® steel


