26 Aug 2026
Saat Budaya Minahasa Membentuk Wajah Baru Bandara Sam Ratulangi
Saat Budaya Minahasa Membentuk Wajah Baru Bandara Sam Ratulangi
Share:
Arsitektur bandara memiliki peran lebih luas daripada menampung pergerakan penumpang. Sebagai ruang pertama dan terakhir yang dilalui pengunjung, terminal dapat membentuk persepsi terhadap budaya, lanskap, serta karakter wilayah yang dilayaninya.
Pendekatan tersebut terlihat pada renovasi dan perluasan Bandar Udara Internasional Sam Ratulangi di Manado, proyek nominee Steel Architectural Awards Indonesia 2026 kategori infrastruktur.
Proyek dikembangkan oleh Penta Architecture dan dipresentasikan oleh Ar. Ir. Agung Setiawan, M.Ars., IAI, Senior Architect Penta Architecture ini tercatat sebagai nominee Steel Architectural Awards Indonesia 2026. Terminal bandara ini selesai pada 2022 dengan luas lantai sekitar 55.790 m² di kawasan seluas 2,5 hektare.
Konsep Gerbang Utara Nusantara diterjemahkan melalui atap berlipat, pola fasad, plafon linear, dan susunan ruang terminal. Pendekatan identitas serupa dalam skala terminal besar dapat diamati pada International Airport Soekarno-Hatta Terminal 3, ketika bahasa arsitektur ikut membentuk pengalaman kedatangan dan keberangkatan.
Identitas Minahasa dalam Arsitektur Bandara Sam Ratulangi
Rancangan terminal berangkat dari riset terhadap budaya dan karakter alam Sulawesi Utara.
1. Rumah Adat Walewangko sebagai Inspirasi Atap
Rumah adat Walewangko menjadi salah satu referensi utama dalam pembentukan siluet terminal. Bentuk tradisional tersebut tidak disalin secara langsung, melainkan ditransformasikan menjadi rangkaian bidang miring yang lebih sesuai dengan skala dan kebutuhan arsitektur bandara.
Atap disusun berulang sepanjang massa bangunan. Pengulangan tersebut membantu memecah skala terminal yang panjang sekaligus memperjelas ritme struktur dan pembagian ruang di bawahnya.
Dari area udara maupun jalur kedatangan, lipatan atap membentuk identitas yang mudah dikenali. Terminal tidak terbaca sebagai satu volume besar, tetapi sebagai rangkaian modul yang saling terhubung.
2. Tarawesan Pareday pada Pola Fasad
Tarawesan Pareday diterjemahkan melalui pola geometris pada secondary skin. Susunannya menyerupai anyaman melalui pertemuan garis diagonal dan modul berulang.
Elemen ini memberi kedalaman pada fasad sekaligus menyaring cahaya sebelum mencapai bidang kaca. Dengan demikian, ekspresi budaya tidak hadir sebagai ornamen tempelan, tetapi menjadi bagian dari perangkat pembayangan bangunan.
Bagi arsitek, strategi tersebut menunjukkan bahwa motif lokal dapat dikembangkan melalui modul, struktur sekunder, dan pola konstruksi yang terukur.
3. Nyiur Melambai dan Riak Ombak dalam Komposisi Bangunan
Karakter pesisir Sulawesi Utara diterjemahkan melalui gerak visual pada atap, fasad, dan interior. Garis yang berulang membentuk kesan menyerupai nyiur melambai dan riak ombak.
Narasi ini diteruskan hingga plafon terminal. Perubahan kedalaman panel serta pencahayaan membuat permukaan interior terlihat bergerak mengikuti arah sirkulasi.
Dalam arsitektur bandara, kontinuitas gagasan dari eksterior menuju interior membantu pengguna memahami bangunan sebagai satu pengalaman, bukan sebagai kumpulan elemen yang terpisah.
Menyatukan Terminal Eksisting dan Area Perluasan
Renovasi terminal menuntut hubungan yang jelas antara bangunan lama dan massa tambahan.
1. Kesinambungan Massa Bangunan
Terminal eksisting dan area perluasan disatukan melalui pengulangan bidang miring. Ritme tersebut mengurangi perbedaan visual antara dua tahap pembangunan.
Perluasan tidak hanya menyediakan ruang tambahan. Intervensi juga perlu memperbaiki hubungan antarfungsi, arah pergerakan, dan orientasi penumpang di dalam terminal.
Strategi sejenis dapat dipelajari melalui Bandara Domine Eduard Osok Sorong, yang menggunakan bentuk atap melengkung sebagai identitas terminal dan gerbang menuju wilayah Papua Barat.
2. Bahasa Atap dan Fasad yang Konsisten
Kesatuan terminal dibentuk melalui hubungan antara bidang atap, secondary skin, kaca, dan elemen interior. Setiap bagian menggunakan ritme yang berbeda, tetapi masih mengikuti satu bahasa geometris.
Atap membentuk siluet utama, pola fasad memberi kedalaman, sedangkan plafon meneruskan garis bangunan ke ruang dalam. Strategi ini membuat arsitektur bandara tetap konsisten ketika dibaca dari kejauhan maupun dari area pelayanan penumpang.
3. Orientasi Ruang dan Pergerakan Penumpang
Garis atap dan plafon ikut membentuk arah visual di dalam terminal. Pengulangan modul membantu mengarahkan pandangan menuju ruang tunggu, area pemeriksaan, dan jalur sirkulasi.
Bagi arsitek, orientasi tidak hanya dibangun melalui signage. Bentuk ruang, arah plafon, posisi bukaan, dan perubahan tinggi dapat membantu penumpang memahami urutan perjalanan secara lebih intuitif.
Kesinambungan tersebut sangat penting pada terminal yang menggabungkan bangunan lama dan baru. Pengguna perlu merasakan satu sistem pergerakan yang utuh meskipun konstruksinya berasal dari fase berbeda.
Strategi Arsitektur Tropis pada Bandara Sam Ratulangi

Bentang besar dan luasnya fasad membuat respons iklim perlu dikerjakan melalui beberapa lapisan desain.
1. Teritis Lebar untuk Pembayangan
Teritis lebar digunakan untuk memberi pembayangan pada kaca dan area sirkulasi di tepi terminal. Kedalamannya membantu membentuk transisi antara ruang luar dan interior.
Dalam arsitektur bandara, teritis juga memperjelas skala manusia pada massa yang besar. Elemen horizontal tersebut membuat area masuk, jalur kendaraan, dan zona pejalan kaki terasa lebih terlindungi.
2. Secondary Skin pada Fasad Barat
Fasad yang menerima matahari sore dilengkapi secondary skin berpola geometris. Selain menyaring cahaya, lapisan ini memperkuat identitas Minahasa yang menjadi dasar desain.
Jarak antara screen dan kaca menciptakan kedalaman pada fasad. Bayangan yang berubah sepanjang hari membuat permukaan terminal terlihat dinamis sekaligus membantu mengurangi paparan langsung ke interior.
3. Ruang antara Atap dan Plafon
Jarak yang cukup besar antara bidang atap dan plafon membentuk lapisan penyangga termal. Rongga tersebut juga menampung struktur, utilitas, pencahayaan, dan sistem teknis terminal.
Strategi ini memperlihatkan bahwa atap perlu dibaca sebagai satu susunan. Penutup, insulasi, rangka, rongga, plafon, talang, dan titik penetrasi perlu dikoordinasikan sejak tahap desain.
Pada bangunan publik berskala besar, perubahan kecil dalam kedalaman atau jalur utilitas dapat memengaruhi geometri atap dan tampilan interior secara keseluruhan.
4. Pemilihan Material untuk Mendukung Efisiensi Termal
Bidang atap menggunakan LYSAGHT® FLEX-LOK® 0,55 mm BMT dengan COLORBOND® warna Armour Grey. Sistem material tersebut bekerja bersama insulasi dan rongga atap-plafon untuk mendukung kondisi termal terminal.
COLORBOND® Steel merupakan material metal berlapis dari BlueScope yang dikembangkan untuk kebutuhan atap dan dinding. Dalam proses perancangan, pemilihannya perlu mempertimbangkan profil, warna, orientasi bidang, kemiringan, detail sambungan, serta sistem insulasi.
Teknologi Thermatech® juga tercatat sebagai bagian dari material yang digunakan pada proyek. Perannya tetap perlu dibaca bersama strategi pasif lain, seperti teritis, secondary skin, rongga atap, dan pengaturan bidang kaca.
Atap Berlipat sebagai Identitas Bandara Sam Ratulangi

Atap menjadi elemen yang menyatukan ekspresi budaya, kebutuhan teknis, dan orientasi kawasan.
LYSAGHT® FLEX-LOK® mengikuti arah setiap bidang miring dan membantu mempertegas lipatan pada terminal. Warna Armour Grey membentuk dasar netral yang menyatukan modul atap, fasad, dan elemen lanskap.
Geometri berulang menciptakan sejumlah pertemuan pada bubungan, lembah, tepian, gutter, dan flashing. Setiap titik memerlukan koordinasi antara panjang panel, struktur, arah aliran air, dan detail sambungan.
Gutter ditempatkan di antara bidang miring, sedangkan flashing pada ujung atap mengikuti bentuk lancip yang menjadi karakter terminal. Kualitas arsitektur bandara pada bagian ini sangat bergantung pada presisi gambar kerja dan pelaksanaan di lapangan.
Sebagai pembanding pengolahan atap pada fasilitas publik, dua proyek Steel Architectural Award 2024 dapat dilihat dalam satu rangkaian:
- International Airport Raja Haji Fisabilillah, yang menjadi pemenang kategori Lasting Beauty of COLORBOND® Steel; dan
- GOR Djarum Magelang, yang menjadi finalis pada kategori yang sama. Keduanya memperlihatkan bagaimana material atap dapat membentuk identitas sekaligus merespons kebutuhan bangunan publik.
COLORBOND® XAL pada Interior Terminal

Narasi arsitektur diteruskan ke interior melalui plafon linear yang mengikuti gagasan riak ombak.
Interior Bandara Sam Ratulangi menggunakan aluminium AA3105 H16 dengan CLEAN COLORBOND® XAL pada area ruang tunggu dan pelayanan penumpang. Panel memiliki ketebalan sekitar 0,6–0,7 mm dengan sistem finishing PVDF.
Variasi ukuran panel membentuk perbedaan kedalaman pada plafon. Ketika bertemu pencahayaan, susunan tersebut menghasilkan bayangan yang memperkuat gerak visual di sepanjang ruang terminal.
Plafon juga membantu menyatukan area tunggu, pemeriksaan, dan sirkulasi. Dalam konteks arsitektur bandara, elemen interior ini tidak sekadar menyembunyikan utilitas, tetapi meneruskan narasi yang telah dimulai pada atap dan fasad.
Informasi mengenai produk untuk bangunan infrastruktur dapat dibaca bersama pilihan warna standar ketika arsitek mengembangkan hubungan antara atap, fasad, dan interior pada bangunan transportasi.
Bandara Sam Ratulangi sebagai Identitas InJourney Airports
Terminal membentuk gerbang regional melalui perpaduan budaya Minahasa, karakter alam, dan kebutuhan operasional modern.
Bandara Internasional Sam Ratulangi saat ini termasuk dalam jaringan bandara yang dikelola InJourney Airports. Dalam konteks tersebut, identitas terminal menjadi bagian dari pengalaman perjalanan yang menghubungkan penumpang dengan karakter daerah sejak memasuki bangunan.
Atap berlipat membentuk siluet kawasan, secondary skin menerjemahkan pola lokal, dan plafon linear menghadirkan narasi ombak ke ruang dalam. Keseluruhan elemen membuat arsitektur bandara bekerja pada beberapa skala, mulai dari tampilan udara hingga detail ruang tunggu.
Beragam referensi proyek infrastruktur menunjukkan bahwa setiap terminal memerlukan respons berbeda terhadap iklim, identitas, kapasitas, dan pola perjalanan pengguna.
Bandara Sam Ratulangi menunjukkan bahwa renovasi terminal dapat melampaui penambahan luas. Intervensi arsitektur mampu menyatukan massa lama dan baru sekaligus membangun citra yang konsisten bagi Manado serta kawasan utara Indonesia.
Kebutuhan profil, warna, sistem atap, serta detail pertemuan pada proyek arsitektur bandara dapat dibahas melalui konsultasi teknis proyek bersama tim COLORBOND® Steel.
FAQ
Siapa arsitek Bandara Sam Ratulangi?
Proyek dikembangkan oleh Penta Architecture dan dipresentasikan oleh Ar. Ir. Agung Setiawan, M.Ars., IAI sebagai Senior Architect.
Apa konsep arsitektur terminal ini?
Konsepnya adalah Gerbang Utara Nusantara, dengan inspirasi dari rumah adat Walewangko, Tarawesan Pareday, nyiur melambai, dan riak ombak.
Bagaimana budaya Minahasa diterapkan pada terminal?
Budaya Minahasa diterjemahkan melalui atap berlipat, pola secondary skin, ritme fasad, dan plafon linear. Unsur budaya diolah menjadi geometri serta sistem bangunan.
Bagaimana terminal merespons iklim tropis?
Terminal menggunakan teritis lebar, secondary skin pada fasad barat, insulasi, serta rongga yang cukup besar antara atap dan plafon.
Produk apa yang digunakan pada atap terminal?
Atap menggunakan LYSAGHT® FLEX-LOK® 0,55 mm BMT dengan COLORBOND® warna Armour Grey.
Apa fungsi atap berlipat pada arsitektur bandara ini?
Atap berlipat membentuk identitas terminal, memecah skala massa, memperjelas modul ruang, dan menerjemahkan karakter rumah adat Walewangko.
Material apa yang digunakan pada plafon?
Linear ceiling menggunakan aluminium AA3105 H16 dengan CLEAN COLORBOND® XAL, ketebalan sekitar 0,6–0,7 mm, dan sistem finishing PVDF.
Apakah Bandara Sam Ratulangi dikelola InJourney Airports?
Ya. Bandara Internasional Sam Ratulangi termasuk dalam jaringan bandara yang dikelola PT Angkasa Pura Indonesia atau InJourney Airports.
Sumber Referensi:
- Referensi para finalis Steel Architectural Award 2024 dari website COLORBOND®
- Referensi Artikel related dari website COLORBOND® steel


